Kamis, 16 Januari 2014

Kritik Penggunaan kata "Mimbolian" dalam ALKITAB Bahasa Balantak


Penggunaan kata “MIMBOLIAN” dalam terjemahan ALKITAB Bahasa Balantak adalah SALAH KAPRAH

            (1). MIMBOLIAN secara terminologis berasal dari kata dasar "boli" yang berarti "ubah" yang kemudian diberikan awalan MIM dan akhiran AN yang menjadi MIMBOLIAN. Dalam bahasa balantak suku kata yang berawal MIM dan berakhiran AN mengandung makna kata kerja. Jadi Mimbolian berarti "MENGUBAH" atau MERUBAH". APA yang dirubah/ubah? yang dirubah adalah sesuatu yg tdk baik dirubah supaya baik. Berdasarkan pengertian ini, relevankah kata Mimbolian diartikan sebagai orang2 najis dan berhala? sama sekali tidak cocok alias tidak konek.
(2) MIMBOLIAN dpt pula diartikan sebagai aktivitas. Dalam tradisi suku Balantak untuk mengubah yang tdk baik menjadi baik yakni dengan kegiatan mimbolian. Bagaimana wujudnya? yakni dengan sharing pengalaman secara jujur dan terbuka (dalam bahasa Balantak disebut bapoosarak, artinya mencari kesalahan atau dosa2 yg telah dilakukan dan mengakuinya kemudian bertobat). Suku Balantak percaya bahwa kesalahan2 atau dosa2 yang telah diperbuat dapat mendatangkan musibah. Dengan pengertian ini apakah kegiatan itu berhala? Jangankan orang Balantak, Mereka yang percaya pada TUHAN pun mengimani bahwa dosa mendatangkan maut. Jadi Tidak cocok klu mimbolian diterjemahkan sebagai berhala atau najis.
(3). MIMBOLIAN sbg bentuk kepercayaan. Apa yang dipercayai dalam mimbolian tentunya tidak sama persis dengan apa yang diimani oleh GEREJA. Mimbolian percaya akan adanya eksistensi Tuhan sbg yang empunya diri kita yang oleh A.C. Kruyt disebut TUMPUHta. Hanya saja dalam mimbolian tdk mengenal Kristus (dulu saat blm mengenal agama). Dalam mimbolian pun mengajarkan nilai2 cinta kasih, persaudaraan dan kesetiaan. Mimbolian merupakan landasan etika, moral, filsafat dan nilai-nilai kehidupan yang memiliki visi demi kebaikan dalam cara yang berbeda. HANYA saja bahwa aktivitas ritual dalam mimbolian tdk sama dgn ritual dalam GEreja. Dua hal yg berbeda tapi memiliki adanya kesamaan nilai2. TAPI TIDAK SEMUA DALAM MIMBOLIAN SEJALAN ATAU SAMA DENGAN KEYAKINAN IMAN AGAMA. Pertanyaannya adalah APAKAH dengan adanya perbedaan terus disimpulkan sbg berhala? Justru kata "berhala itulah" meruntuhkan semua kesamaan nilai2 itu. Budaya balantak lahir dari mimbolian, etika atau cara bergaul masyarakat Balantak lahir pula dari mimbolian. MOHON MAAF entah siapa yang menerjemahkan kata MIMBOLIAN sebagai kata berhala, kesimpulan saya berarti dia (mereka) tidak mengerti substansi dari Mimbolian. JANGAN2 mereka (GEREJA tertentu) telah membunuh warisan budaya leluhur tanah negeri. Jangan2 "Gerejalah" yang membunuh budaya di tanah Balantak (cat. Tdk semua Gereja). GEREJA Kekristenannpun lahir dari budaya dan dipengaruhi oleh Budaya (bdk. sejarah kekristenan). Saya agak terganggu ketika membaca kata mimbolian dalam Alkitab karena menurut saya tidak cocok. Sbg orang beriman, saya setuju bahwa ada hal2 yg tidak sejalan dgn iman kristiani tetapi tdk serta merta membuat kesimpulan sbg berhala. Pertanyaan kritisnya..... APAKAH agama ISLAM, HINDU, BUDHA dan KONGHUCU yg tdk mengimani Kristus kita sebut mereka BERHALA? Tentu TIDAK.
"YESUS telah mengajarkan kepada umatNya untuk tidak menghakimi orang lain demikian pun kita jangan menghakimi sesama kita karena Yesus-lah satu-satunya Hakim Agung"

Oleh: M. Muharli Mua, S.Fils

Selasa, 14 Januari 2014

Mimbolian: Kepercayaan Suku Balantak



Catatan: Berikut ini adalah bagan tentang relasi manusia dengan “yang Ilahi” dalam perspektif suku Balantak. Tentunya relasi dengan “yang Ilahi” ini lahir dari masyarakat suku Balantak sebelum mengenal dan memeluk agama. Meskipun telah menganut agama (beriman) namun kepercayaan-kepercayaan dalam “mimbolian” masih terpelihara hingga kini. Di sini, penulis tidak mengajak anda untuk kembali ‘mimbolian’ tetapi memperkenalkan kepada saudara tentang bagaimana para leluhur suku Balantak dahulu kala percaya akan realitas yang transenden sebelum menganut agama. Relasi dalam bagan ini akan dibahas oleh M. Muharli Mua, S.Fils (Pascasarjana UGM Yogyakarta) dalam buku yang berjudul “Suku Balantak: Sejarah, Kebudayaan dan Filsafatnya”.

 

Ritual “Mimbolian” dalam Masyarakat Suku Balantak
(M. Muharli Mua, S.Fils)


Ritual Mimbolian bagi orang yang sakit