Selasa, 14 Januari 2014

Sumawi




Catatan: Bpk. RAF KASIH adalah salah seorang tokoh pemerhati budaya Balantak. Dalam tulisannya, beliau mendeskripsikan secara umum tentang “Sumawi” dan bagaimana ritual tersebut dilaksanakan. Beliau saat ini sedang bekerja di Kantor Departemen Keuangan. Beliau selalu mendorong dan memotivasi agar “anak negeri” suku Balantak mau menggali nilai-nilai luhur budaya Balantak. Semoga tulisan yang singkat, padat dan jelas ini dapat memberikan pemahaman kepada kita mengenai masyarakat Suku Balantak yang entah sudah “terlupakan atau memang dilupakan”.....


SUMAWI: Ritual Mimbolian dalam tradisi suku Balantak
(Bpk. Raf Kasih)

Sumawi merupakan bagian dari ritual Mimbolian. Sumawi dilaksanakan berdasarkan kesepakatan dari 5 sub suku Balantak, yakni Lo’on, Bula, Ruurna, Batu Biring, Nggoube. Masing-masing subsuku tersebut mengutus seorang Bolian utama sebagai pelaksana kolektif pada satu tempat yang disepakati. Terakhir Sawian di Utun. Di lokasi sumawi dibuat bangsal utama yang disebut saroa' (sebagai pusat kegiatan). Di dalam rumah/bangsal saroa diadakan kegiatan ritual antara lain Pelarungan segala bencana yang pernah dialami (akibat dosa), bertanya kepada para dewa, tembenuat (arwah para leluhur), mimulos serta sumawi. Ritual sumawi dibimbing oleh para bolian dengan menunjuk seseorang sebagai Lotu'. Lotu’ bisa lebih dari 1 orang. Acara Sumawi dapat dihadiri oleh  siapa saja dan tidak terbatas jumlahnya. Ketika Sumawi dimulai maka Lotu’ yg bertindak sebagai “dirigen”, krn sumawi dilakukan dengan menyanyi dan menari. Semua lagu dan syairnya dimulai dari Lotu' yang kemudian diikuti oleh peserta yang hadir. Semua syair yang disampaikan oleh Lotu menggambarkan refleksi yang yang dialami kurun waktu dari sawian sebelumnya yakni  keadaan saat ini, dan prediksi masa depan. Syair-syair tersebut dilantunkan sesuai “hitungan waktu semalam” hingga pagi. Misalnya, syair refleksi masa lalu dilantunkan sebelum tengah malam, syair masa sekarang dilantunkan antara jam 11 malam hingga pukul 2 subuh. Sedangkan syair yang melukiskan tentang masa depan dilantunkan mulai jam 2 subuh hingga subuh. Saat mentari menyingsing di ufuk timur maka syair-syair yang dilantunkan bernuansa keindahan dan kebangkitan. Menurut mantan Lotu (Yos Lageso), syair-syair dalam sumawi tidak boleh dilantunkan sembarangan dan hanya boleh dilantunkan pada saat sumawi saja. Menurut kepercayaan suku Balantak, bila syair-syair dalam sumawi dilantunkan di luar ritual maka akan berdampak buruk (dapat berupa sakit, gempah, angin ribut dan lain-lain) karena ada keterlibatan langsung dengan para dewa ketika melantunkan syair-syair tersebut. Syair-syair tersebut memakai bahasa yang berestetika tinggi. Karena begitu luhur dan tingginya bahasa tersebut maka para tokoh adat sangat menjaga dan memelihara warisan budaya tersebut.


[Mengenai “Sumawi” akan dibahas secara mendetail dalam buku “Suku Balantak: Sejarah, Kebudayaan dan Filsafatnya” oleh M. Muharli Mua, S.Fils]
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar